SINODE GEREJA KRISTEN SANGKAKALA INDONESIA (GKSI)

Komp.Kota Grogol Permai Blko.C41-44. Jl.Prof.Dr.Latumeten Jakarta Barat.. Telp.(021056966547. Fax. (021)56960327. website: www.gksi.org email: sangkakala@gksi.org; bpp@gksi.org

Selamat datang di website Gereja Kristen Sangkakala Indonesia (GKSI)

Pemahaman Gereja Kristen Sangkakala Indonesia tentang:

ALLAH TRITUNGGAL

(Sebuah Risalah Teologis - Alkitabiah tentang Ke-Esa-an dan Ke-Tritunggal-an Allah)

Oleh: Dylfard Pandey, MTh.

 

Dalam Kitab Suci, Allah mewahyukan dirinya sebagai satu-satunya Allah yang hidup, benar dan kekal. Allah yang menyatakan keberadaan diri-Nya sebagai Allah yang Esa dengan Tiga Pribadi: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Tiga Pribadi dalam Allah yang Esa ini dapat dibedakan tetapi tidak tercampur dan tidak dapat dipisahkan, berbeda tetapi tidak terbagi. Sama dalam sifat dasar,  sama tinggi dalam sifat, kedudukan, kuasa dan kemuliaan. Allah yang mutlak dan sempurna. Satu Allah bukan Tiga Allah. Tiga Pribadi tetapi satu keberadaan yaitu Allah.

 

Pendahuluan

            Kekristenan merupakan kepercayaan bersifat monoteisme[1] yang berasal dan berdasarkan secara kuat pada konsep monoteisme Yahudi.[2] Monoteisme merupakan sebuah penyingkapan diri Ilahi secara progresif sebagai Tuhan yang terus menerus menyatakan diri-Nya di sepanjang Alkitab.[3] Paham monoteisme ini dipegang “bersama-sama oleh orang-orang Kristen dan orang Yahudi meskipun dengan pemahamannya oleh masing-masing berbeda.”[4] Pemahaman Kristen yang berbeda tentang monoteisme inilah yang menjadi persoalan yang sangat kontroversial bukan hanya di kalangan agama-agama penganut monoteisme seperti Yudaisme dan Islam tetapi juga di kalangan orang-orang Kristen sendiri. Kepercayaan terhadap Allah yang Esa dengan Tiga Pribadi: Bapa, Anak dan Roh Kudus yang disebut dengan menggunakan terminologi TriTunggal menjadikan doktrin ini benar-benar unik dan istimewa. Doktrin ini merupakan ajaran yang esensial dan berada tepat di jantung kepercayaan Kristen. Doktrin ini mengundang begitu banyak persoalan dan perdebatan bukan hanya berkaitan dengan konsep yang berada di dalamnya tetapi juga dengan istilah yang digunakannya.

            Doktrin TriTunggal merupakan sebuah doktrin yang sangat mengagumkan, unik dan istimewa sekaligus membingungkan. Sebuah doktrin yang istimewa karena berkaitan dengan kemisteriusan dan keunikan Allah. Doktrin yang bersifat pewahyuan karena Allah memperkenalkan dan menyingkapakn kepada diri kita tentang apa dan siapa diri-Nya. Doktrin TriTunggal ini merupakan suatu ajaran dasar yang sangat sulit untuk dipahami dan dicerna oleh rasio manusia yang terbatas. Yang Kekal berusaha dipahami oleh yang fana, Yang Tidak Terbatas coba dipahami oleh yang terbatas. Hal ini bagaikan berusaha memindahkan air yang ada di samudera ke dalam gelas berukuran 360 ml. Usaha untuk melihat langsung ke dasar Matahari yang lagi bersinar dengan maksimal pada tengah hari. Suatu usaha yang mustahil untuk dilakukan. Tetapi oleh anugerah-Nya Allah dapat dipahami dan mengenal Allah sebatas Ia menyatakan diri-Nya seperti yang tertulis dalam Alkitab. Doktrin ini bukanlah ajaran yang sengaja dibuat-buat atau dikembangkan sebagai hasil rekayasa manusia. Ini merupakan sebuah doktrin yang supra rasional (malampaui rasio) dan hanya dapat  dimengerti secara rasional sebatas bukti-bukti yang dinyatakan dalam Kitab Suci.[5] Dalam Alkitab tersedia cukup banyak bukti kuat yang mengungkapkan tentang terdapatnya kejamakan pribadi yaitu Tiga Pribadi dalam Allah yang Esa. Penggunaan kata Tiga di sini bukanlah dalam pengertian angka secara matematis tetapi untuk menunjukkan adanya pribadi yang berbeda dalam ke-Allahan.

Pemahaman yang tidak akurat tentang doktrin TriTunggal ini membuat orang-orang mengganggapnya sebagai paham yang menganut Triteisme yaitu kepercayaan kepada adanya tiga Allah sebagaimana dituduhkan oleh kaum Muslim,[6] dan diakui oleh kaum Mormon,[7]  dan untuk menghindarkan diri dari tuduhan Triteisme beberapa aliran yang mengaku percaya kepada Kristus seperti Arianisme,[8] Monarkhianisme Modalis,[9] Saksi Yehova,[10] Oneness Pentacosal,[11] tetapi menyatakan secara terang-terangan menolak Tiga Pribadi dalam ke-Allah-an dan hanya percaya kepada Allah yang Esa dengan satu pribadi.

Istilah-istilah Yang Biasa Digunakan dalam Doktrin TriTunggal

            Tritunggal. Istilah ini pertama kali digunakan dalam istilah bahasa Latin, Trinitas oleh Tertulianus dan dalam istilah bahasa Yunani, Trias oleh Teofilus dari Antiokhia.[12] Istilah Tritunggal  ini bukanlah istilah yang berasal dari Alkitab tetapi konsep tentang Allah yang Esa dengan kejamakan-Nya terungkap dengan jelas di dalamnya. Istilah ini merupakan istilah yang diadopsi dari apa yang telah disediakan oleh  lingkungan keilmuan Filsafat.  Penggunaan istilah Tritunggal merupakan suatu bentuk ringkas untuk menjelaskan tentang fakta Alkitab bahwa Allah yang disembah adalah Allah Tritunggal[13] dan hanyalah sebagai usaha untuk menjelaskan kepenuhan Allah, baik dalam hal keesaan-Nya maupun dalam hal kejamakan-Nya.[14]

            Ousia dan hypostasis. Sebelum Basilius Agung, Gregorius dari Nyssa dam Gregorius dari Nazianze yang dikenal dengan sebutan bapa-bapa kapadokia mendefinisikan kata-kata ini secara tetap penggunaan arti kedua kata ini dipakai secara campur baur.[15] Karena itu dapat dikatakan bahwa sejak masa bapa-bapa Kapadokia pengartian kedua kata ini telah memiliki makna yang tetap. Kata ousia secara teknis digunakan untuk Ke-Allahan dan kata hypostasis untuk menjelaskan diri atau pribadi. Sekarang secara teologis arti tetap kata ousia mengacu kepada keberadaan (being), hakikat, esensi atau substansi bersama Allah sedangkan istilah hypostasis menunjuk kepada bentuk-bentuk khusus yang diterima atau diambli oleh hakikat ilahi dari pribadi (person) Bapa, Putra dan Roh Kudus.[16] Jadi dapat dikatakan ousia dapat dipahami dengan kata tanya “What You are?”, ”Apa anda?” dan kata hypostasis dimengerti dengan kata tanya “Who You are?”, “Siapa Anda?”. Contohnya pertanyaan-pertanyaan ini yang diajukan kepada seorang bernama Josh:  Apa anda? Manusia, menunjukkan hakekatnya. Siapa Anda? Josh (nama), ini menunjukkan diri pribadinya yang khas. Pertanyaan pertama mengacu kepada hakikat si Josh yaitu manusia sedangkan pertanyaan kedua mengacu kepada pribadi yang bernama Josh yang membedakannya dengan pribad-pribadi yang lain seperti John, Maxi, dll. Dengan demikian ketika kedua pertanyaan ini diajukan kepada Allah TriTunggal maka hasilnya akan seperti ini What You are? Allah yang Esa; Who You are? Bapa, Anak dan Roh Kudus. Satu Allah dengan tiga pribadi.

            Homoousios. Istilah ini memiliki pengertian serupa dalam hakikat atau substansi[17] atau sehakikat dari satu hakikat.[18] Istilah ini merupakan istilah yang memuat gagasan yang berkaitan dengan kesatuan hakikat atau hakikat yang sama, (homo-ousios) dari ke-Allahan dan bukan hakikat yang mirip (homoi-ousios).[19]

            Isitilah-istilah ini harus dipahami dengan baik untuk dapat berbicara konsep yang sama tentang TriTunggal dengan latar belakang dan titik tolak yang sama. Hal ini perlu dilakukan supaya tidak terjadi kesalahpahaman penalaran dan tidak terjadi perdebatan yang tidak perlu karena titik tolak yang berlawanan.

Sekarang pertanyaannya adalah apakah Allah yang Esa dalam wujud Tiga Pribadi: Bapa, Anak dan Roh Kudus merupakan pemahaman Kristen yang berakar dalam Alkitab? Apakah itu didukung dengan bukti-bukti yang kuat dalam Alkitab? Untuk membuktikannya maka perlu dilihat dan dicari fafkta-fakta dalam tulisan-tulisan Alkitab yang dapat dijadikan bukti untuk menguji apakah kebenaran ini benar atau tidak.

Dasar Alkitabiah Doktrin Allah TriTunggal

             Data yang diungkapkan dalam Alkitab menunjukkan fakta-fakta yang dapat dijadikan bukti dan landasan Alkitabiah tentang Allah TriTunggal tidak dapat dipungkiri, diragukan dan diabaikan begitu saja tanpa memperhatikannya. Bukti-bukti tentang ajaran TriTunggal dapat dikatakan cukup banyak terdapat dalam tulisan-tulisan Alkitab kecuali bukti-bukti itu dengan sengaja diabaikan dan tidak diperhatikan karena faktor kesubjektifan. Dalam bagian ini  pembahasan data dan fakta dari Alkitab yang dijadikan bukti Alkitabiah untuk pemahaman doktrin TriTunggal ini. Perlu dipahami bukti-bukti ini mungkin terpisah tetapi saling terkait secara erat dan saling melengkapi guna membangun landasan Alkitabiah tentang doktrin TriTunggal ini.

Keesaan Allah

            Allah dalam Alkitab dinyatakan dengan jelas dan tegas sebagai Allah yang Esa. Dia adalah satu-satunya Allah yang kekal, benar dan hidup dan tidak ada yang setara dan dapat menyamai-Nya. Hal ini dibuktikan sebagaimana dinyatakan dalam pengakuan iman Westminster yang nyatakan bahwa, “hanya ada satu Allah yang esa, yang hidup dan sejati.”[20] Keesaan Allah disini dimaknai dan dinyatakan bahwa “hanya ada satu Allah saja dan bahwa sifat dasar atau watak Allah tidak dapat dipisah-pisahkan atau dibagi”.[21] Berikut ini beberapa fakta Alkitab yang membuktikan tentang keesaan Allah.[22]

Bukti Perjanjian Lama. Orang Yahudi pada zaman Alkitab sangat erat mempertahankan iman kepada satu Allah yang benar (monoteisme). Mereka adalah orang-orang yang monoteis. Karena itu, dalam Alkitab terdapat data yang kuat untuk dijadikan petunjuk tentang kepercayaan kepada Allah yang Esa dan kepercayaan ini merupakan kebenaran fundamental dalam Perjanjian Lama.

Pertama, Bukti-bukti dari Pentateukh. Data dari Kitab Keluaran. Bukti pertama menunjukkan bahwa tidak ada yang seperti Allah dan yang bisa dibandingkan dengan-Nya terdapat dalam Keluaran 8:10; 9:14; 15:11 dan hanya Dia yang harus disembah tertulis dalm Keluaran 20:3. Bukti berikutnya yang menjelaskan tentang keesaan Allah karena hanya Dia sendiri yang harus disembah tercatat dalam Keluaran 20:5; 34:11. Data kitab Ulangan.  Bukti pertama yang menunjukkan tentang keesaan Allah tertulis dalam Ulangan 4:35 dan 39 yang menyatakan bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. Bukti kedua ditemukan dalam Pengakuan Iman utama bagi Yudaisme  yang tercatat dalam Ulangan 6:4, “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!”. Pengakuan ini dikenal dengan sebutan “Shema Israel” merupakan landasan yang krusial dan pengakuan utama terhadap kepercayaan kepada Allah yang esa. Sebuah Pengakuan yang menekankan pada kesatuan atau keesaan Allah. Data kitab Yosua. Isi dari Yosua 22:22 menyatakan bahwa Allah mengatasi segala yang disebut Allah. Dia adalah tertinggi dan yang melebihi segala Allah.

Kedua, Bukti-bukti dari kitab-kitab Sejarah. Data Kitab 1 dan 2 Samuel. Dalam ayat 1 Samuel 2:2 dan 2 Samuel 7:22; 22:32 menjelaskan bukti bahwa Tuhanlah Allah satu-satunya dan tidak ada yang lain selain Dia. Ayat-ayat ini menekankan bahwa hanya Tuhan sendiri adalah Allah. Data dalam Kitab 1 dan 2 Raja-raja. Pernyataan “supaya segala bangsa di bumi tahu bahwa Tuhanlah Allah, dan tidak ada yang lain” dalam 1 Raja-raja 8:60 menyatakan hanya Tuhan satu-satunya Allah. Bagian lain yang menunjukkan tentang keesaan Allah dapat dilihat juga dalam 1 Raja-raja 8:23 dan 2 Raja-raja 17:36.

Ketiga, Bukti-bukti dari kitab Syair. Mazmur 18:32 dan 86:10 menyatakan keyakinan Daud bahwa tidak ada Allah selain Tuhan.

Keempat, Bukti-bukti dari kitab Nabi-nabi. Yesaya menunjukkan bahwa di dunia ini benar-benar tidak ada Allah kecuali Tuhan (Yes 45:6-8, 20-22; 46:8-10). Pengakuan yang sama juga muncul dari mulut Yeremia yang menyatakan bahwa tidak ada yang sama seperti Tuhan (Yer 10:6) dan Tuhan mengatasi segala allah yang bangsa-bangsa lain (Yer 14:22). Hosea menyampaikan bahwa Tuhan menyatakan bahwa hanya Dialah Allah (Hos 13:4) dan Maleakhi menunjukkan kepercayaannya bahwa Allah keesaan Allah lewat pertanyaannya: “bukankah satu Allah yang menciptakan kita?”.

            Bukti Perjanjian Baru. Tuhan Yesus dan para Rasul mengakui dengan jelas tentang keesaan Allah. Dalam Markus 12:29 Tuhan Yesus sendiri menegaskan kembali pengakuan iman dalam Perjanjian Lama yang tertuang dalam Ulangan 6:4 dimana Ia berkat: “Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.”  Paulus juga menyatakan keesaan Allah dalam tulisannya kepada jemaat di Korintus (1 Korintus 8:4-6) begitu juga kepada jemaat di Efesus di mana ia menyatakan tentang “satu Allah dan satu Bapa dari semua” (Efesus 4:6). Dan harus dipahami bahwa berkaitan dengan keesaan Allah “terdapat pengulangan yang sangat kuat tentang pengakuan ini di seluruh Perjanjian baru”[23] sebagaiman terungkap dalam ayat-ayat  Yohanes 17:3; Roma 3:30; 1 Timotius 2:5; dan Yudas 1:25.

            Berbagai bukti yang diungkapkan oleh Alkitab dari bagian Perjanjian Lama sampai ke bagian Perjanjian baru membawa kekristenan untuk memiliki kepercayaan yang monoteistis. “Lalu apa yang mendorong gereja melangkahi bukti ini?, tulis Millard J. Erickson, “Jawabannya adalah tambahan kesaksian Alkitab tentang adanya tiga oknum yang merupakan Allah.”[24] Dengan demikian dapat dikatakan bahwa orang Kristen tidak menambahkan atau merekayasa doktrin Tritunggal tetapi hanya mengakomodasi apa yang dinyatakan oleh Alkitab, mengolah dan merumuskannya menjadi sebuah ajaran sehat yang berdasarkan Alkitab.

Tiga Pribadi Ilahi Allah

             Dalam bagian ini bukti-bukti tentang ke-Allahan dari Tiga Pribadi Ilahi akan coba diungkapkan dengan jelas berdasarkan bagian-bagian ayat dari Alkitab yang menyediakan fakta-fakta yang kuat. Dalam Perjanjian baru menunjukkan adanya Tiga Pribadi yang berbeda dalam Hakikat Allah karena ditunjukkan bahwa Kristus berbicara kepada Bapa dan tentang Bapa biasanya sebagai pribadi yang lain; Ia juga berbicara tentang Roh Kudus sebagai “Penolong yang lain” yang berbeda dengan diri-Nya.

Bapa adalah Allah. Sebutan Bapa untuk Allah bukanlah dipahami seperti dalam penggunaan secara umum sebagaimana orang zaman dulu menyebut dewa Zeus atau sebagaimana sering digunakan untuk suatu keberadaan tertinggi. Dalam Perjanjian Baru, Bapa memiliki arti yang baru dan terlihat dalam hubungan Allah dengan Kristus dan hubungan Allah dengan orang Percaya.[25] Itu bukanlah nama untuk umum tetapi nama Bapa untuk Allah sebagaimana diajarkan oleh Alkitab dan merupakan sebuah pewahyuan.[26] Penggunaan sebutan Bapa untuk Allah digunakan oleh jemaat Kristen sejak awal dan merupakan pemikiran yang diajarkan Kristus kepada gereja dan merupakan sebutan kesukaan Kristus (Matius 6:9, 26, 30-32) dan ketika Ia menyebut Allah, jelas bahwa yang dimaksud oleh Yesus adalah sang Bapa (mis. Matius 19:23-26; 27:46; Markus 12:17, 24-27)[27] dan ini diteguhkan juga oleh Yohanes (Yohanes 6:27). Bagian-bagian lain dalam Alkitab yang menunjukkan bukti Bapa sebagai Allah ddiungkapkan juga oleh Paulus dalam 1 Korintus 8:4, 6; 1 Timotius 2:5-6; Efesus 1:3, 17 dan Galatia 4:16 dan ditulis oleh Petrus dalam 1 Petrus 1:2.

            Anak adalah Allah.

Iman kepada keilahian Kristus merupakan hal yang sangat penting dan mendasar bagi kekristenan. Meskipun doktrin keilahian Kristus sangat krusial tetapi dari abad ke abad gereja terus diperhadapkan pada orang-orang yang mengaku dirinya Kristen tetapi menyangkali dan menyelewengkan ajaran ini.[28] Alkitab memberikan kesaksian yang jelas bahwa Yesus Kristus adalah Allah sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam Filipi 2:5-11. Kenapa ayat ini penting karena Paulus seorang Yahudi ortodoks penganut monoteisme yang ketat menuliskan frasa, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan” merupakan hal yang sungguh-sungguh mengherankan.[29] Dalam ayat 6 menunjukkan dengan jelas sekali bahwa kesetaraan dengan Allah itu sudah dimiliki Yesus sebelumnya. Dan oknum yang setara dengan Allah pastilah Allah.[30]

Penelusuran yang cermat untuk menemukan bukti-bukti Alkitab tentang Kristus maka akan terlihat bahwa Paulus kerap menyebut Allah (Theos) sebagai Bapa Yesus Kristus, dan menyebut Kristus sebagai Anak Allah (Huios Theou) tetapi dalam Titus 2:13 ia mememakai sebutan susah dimenerti karena ia menyebut Yesus sebagai Theos: Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita, Kristus Yesus.”[31] Selanjutnya “dalam dua belas dari tiga belas surat Paulus (kecuali Titus),” tulis J. Konx Chamblin, “Yesus Kristus disebut sebagai “Tuhan” (Kyrios)[32] dan konsep ini mendominasi ide teologi Paulus.[33] Perlu dipahami juga bahwa sesekali Paulus mengunakan sebuatan Kyrios (Tuhan) bagi Allah Bapa. Ketika istilah Theos dan Kyrios digunakan maka istilah Theos  merujuk perbedaan pribadi antara Yesus dan Bapa, sedangkan Kyrios merujuk keserupaan keduanya dalam keberadaan dan karakter.[34]

Bagian penting selanjutnya yang membuktikan ke-Allahan Krsitus adalah Ibrani 1. Dalam pasal ini menggunakan istilah bahwa Allah yang disebut sebagai Bapa dari Dia yang disebut sang Anak (ay 5), dan khususnya ayat 8 (yang dikutip dari Mazmur 45:7) dimana Allah menyapa sang Anak sebagai “Allah” dan dalam ayat 10 sebagai “Tuhan” (dikutip dari mazmur 102:26). Hal ini menunjukkan bahwa penulis Ibrani yang berbicara kepada orang Kristen Ibrani yang memegang monoteisme, menjelaskan dengan memakai cara yang meneguhkan keilahan Yesus dan kesetaraan-Nya dengan Bapa.[35]

Pertimbangan terakhir tentang keilahian Kristus adalah kesadaran diri Yesus sendiri. Yesus memang tidak pernah secara blak-blakan mengatakan, “Akulah Tuhan” tetapi Ia benar-benar menyadari bahya diri-Nya adalah Allah. Contohnya, Ia mengampuni dosa yang hanya bisa dilakukan Allah (Markus 2:8-10); ia berkuasa untuk menghakimi dunia (Matius 25:31) dan memerintah dunia (Matius 24:30; Markus 14:62). Yesus juga berbicara tentang diri-Nya sebagai raja dalam kerajaan Allah yang sesekali disebut kerajaan-Nya (Matius 13:41; 16:28; 20:21; Lukas 23:42; Yohanes 18:33-38) dan jika para pemimpin agama lain meniadakan diri, Ia menunjukkan diri-Nya. Mereka berbicara tentang pendapat mereka tentang suatu jalan kebenaran tetapi Yesus menyatakan, “Akulah kebenaran: Ikutlah Aku”.[36] Dan Pengakuan diri-Nya sebagai anak Allah bukan saja dalam arti Juruselamat, tetapi juga untuk menyatakan bahwa antara Ia dan Allah terdapat hubungan kekal dan unik[37] sebagimana terbukti dalam Lukas 2:49; Yohanes 5:17, 23; 8:19; 14:7, 23; 15:23; 19:7; Markus 9:37.

            Roh Kudus adalah Allah.

            Pemahaman Paulus tentang Allahnya berubah secara radikal sejak perjumpaannya dengan Yesus Kristus dan pengalamannya bersama Roh Kudus.[38] Berikut ini beberapa bagian Alkitab yang menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah Allah. Millard Erickson[39] membagi petunjuk tentang keilahian Roh Kudus dalam tiga bagian: 1). Rujukan-rujukan kepada Roh Kudus dapat dipertukarkan dengan rujukan-rujukan kepada Allah, seperti Kisah rasul 5:3-4; Yohanes 16:8-11; 1 Korintus 12:4-11. 2). Pernyataan bahwa Roh Kudus juga menerima kehormatan dan kemuliaan yang diperuntukkan bagi Allah (1 Korintus 3:16-17). Dan 3). Pernyataan bahwa Roh Kudus adalah setara dengan Allah (Matius 28:19 – rumusan baptisan; 2 Korintus 13;13 – doa berkat Paulus dan 1 Petrus 1:2. Alkitab juga menunjukkan kepada kita berbagai bukti yang menjelaskan bahwa ke-Allahan Roh Kudus dengan fakta-fakta yang jelas. Ia disebut Allah (Kis 5:3-4) dan memiliki sifat-sifat Allah: mahatahu (1 Kor 2:10), mahahadir (Mazmur 139:7-10; 1 Korintus 6:19), mahakuasa (Luk 1:35), memberi hidup (Roma 8:2), kekal (Ibrani 9:14).

            Fakta-fakta Alkitab menyediakan begitu banyak bukti yang menunjukkan tentang adanya Allah dengan Tiga Pribadi dan betapa kayanya keragaman keberadaan dalam kesatuan Allah. Allah itu Esa tetapi Perjanjian Baru mengungkapkan perbedaan-perbedaan khusus dalam ke-Allahan dengan mengenalkan  Tiga Pribadi. Ketiganya dikenali sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus.[40] Berbagai fakta tentang keesaan dan ketritunggalan Allah sangatlah jelas dan tegas tertulis dalam Alkitab.

Ketritunggalan Allah

            Kejamakan Allah atau yang dikenal dengan sebutan Ketritunggalan Allah, sekali lagi dinyatakan, bukanlah sebuah kebenaran yang diperoleh melaui akal budi atau yang disebut dengan istilah teologi natural, tetapi merupakan sebuah kebenaran yang didapat dan diketahui melalui pewahyuan, sebuah penyataan wahyu Allah.[41] Hal ini bukanlah sekedar kesimpulan yang diambil berdasarkan ajaran-ajaran lain dalam Alkitab tetapi merupakan doktrin yang secara jelas diajarkan dalam Alkitab berdasar dan berakar pada bagian-bagian ayat-ayat dalam Alkitab. Ketritunggalan Allah sebagaimana diungkapkan dalam bukti-bukti Alkitab menunjukkkan bahwa Allah yang Esa itu memiliki Tiga Pribadi. Pemahaman akan perbedaan dan kesatuan antara tiga pribadi dalam Keallahan: Bapa, Anak dan Roh Kudus sangat jelas dan tegas diungkapkan dalam Alkitab. Untuk itu, pencarian fakta-fakta yang ada dalam Alkitab harus dilakukan untuk dijadikan pembuktian terhadap keabsahan doktrin ini.

Pertama, Penggunaan istilah-istilah berbentuk jamak kepada Allah.  

Beberapa istilah yang digunakan untuk menunjukkan tentang adanya kejamakan dalam Allah adalah: 1). Istilah Elohim. Kejadian 1:1 menyatakan, “Pada mulanya Allah…”. Kata Allah yang digunakan disini berasal dari terjemahan kata Ibrani, Elohim yang bersifat jamak sedangkan bentuk tunggalnya yang merupakan asal kata tersebut adalah El atau Elohe, Allah. Kata Elohim dalam Alkitab digunakan kira-kira 2300 merujuk kepada Tuhan Allah Israel. Kata Elohim ini  walaupun tidak secara khusus menguraikan tentang Allah Tritunggal tetapi dapat mengakomodasi kejamakan dan keesaan Allah. Kata Elohim sering disebut sebagai jamak keagungan meskipun ditafsirkan dengan cara yang berbeda-beda.[42] Knight menyatakan bahwa ada suatu sifat khas bahasa Ibrani untuk membantu mengerti isitilah Elohim ini yaitu yang disebut dengan bentuk jamak kuantitatif. Contohnya Air dapat dilihat dalam bentuk tetesan air yang kecil atau sekumpulan air yang seluas samudera.[43]  Bentuk jamak kuantitatif ini dapat dinyatakan sebagai perbedaan kuantitaf dalam kesatuan dan ini dapat merupakan cara terbaik untuk memahami kejamakan Elohim. Ini juga menjelaskan alasan mengapa kata benda tunggal Adonai ditulis dalam bentuk jamak.[44] 2. Istilah Kita. “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita’” (Kej 1:26), dalam Alkitab Terjemahan Bahasa Inggris kata kita pertama dalam ayat ini menggunakan kata us sedangkan kata kita yang kedua menggunakan our. Kedua kata bahasa Inggris us dan our merupakan kata yang berbentuk jamak. 3. Istilah Ekhad.  Dalam Kejadian 2:24 dan Ulangan 6:4  menggunakan kata satu dan esa yang merupakan terjemahan dari kata Ibrani Ekhad. Dalam bahasa Ibrani terdapat dua kata yang dapat diterjemahkan dengan pengertian “satu” yaitu Yakhid dan Ekhad. Yang pertama digunakan dalam pengertian mutlak, suatu angka satu dari bilangan atau matematika[45] dan yang kedua dalam pengertian gabungan atau kolektif yang terdiri dari lebih dari satu, misalnya satu kumpulan, satu bangsa.[46] Kata yakhid digunakan dalam ekspresi “satu-satunya, hanya satu” dan tidak pernah digunakan untuk mengekspresikan kesatuan ke-Allahan.[47] Sedangkan kata ekhad memiliki arti satu dalam pengertian sebuah kesatuan tersusun[48] atau kesatuan gabungan (compound unity), yang selalu digunakan untuk menggambarkan kesatuan ilahi.[49] Contoh penggunaan kata ekhad  dalam Alkitab seperti terdapat dalam Ulangan 6:4, “Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa (ekhad)” dan Kejadian 2:24, “sehingga keduanya menjadi satu (ekhad) daging.”

Dalam Perjanjian Baru Kata Ibrani ekhad diterjemahkan ke dengan kata heis dalam bahasa Yunani. Dan kata ini digunakan oleh Tuhan Yesus ketika Ia berkata, “Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa” (Markus 12:29) dan “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30). Kata Yunani ini digunakan untuk menunjukkan aspek kuantitas dalam menyatukan dua bagian[50] seperti dalam Efesus 2:4 dan berkaitan dengan rumusan monoteisme Injil Yohanes untuk membangun ide keesaan Allah dan Kristus.[51]

Kedua, Pergeseran dari kata berbentuk tunggal ke kata berbentuk jamak.

Dalam Kejadian 1:26 terlihat dengan jelas pergeseran dari bentuk tunggal ke jamak, “Berfirmanlah Allah (Tunggal), ‘Baiklah Kita (jamak) menjadikan menusia menurut rupa dan gambar Kita (jamak).” Beberapa orang telah mengajukan keberatan bahwa semua ini merupakan bentuk jamak keagungan karena beberapa sarjana beranggapan sifat jamak dalam kata Elohim dapat ditafsirkan sebagai peruntuk kepada keagungan bukan kepada keanekaragaman hakikat Allah.[52] Tetapi yang penting kita dapat melihat dari segi analisis logis, adalah pergeseran dari yang tungga kepada yang jamak.[53] Dalam Yesaya 6:8, “penulis Alkitab,” menurut Erickson, “tidak memakai kata kerja jamak (keagungan) bersama dengan Elohim, namun mengutip perkataan Allah yang menggunakan kata kerja jamak ketika mengacu pada diri-Nya sendiri sebagaimana diserukan-Nya, ‘Siapakah akan Kuutus (tunggal)? Siapakah akan menjadi pembawa berita Kita (jamak)?”[54]

Sebuah frasa kalimat dalama Matius 28:19, “baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” menunjukkan bukti lain dari petunjuk pergeseran ini. Kata “dalam nama” merupakan terjemahan dari kata Yunani berbentuk tunggal, onoma yang berarti nama dan bukan kata jamak onomata yang berarti nama-nama. Begitu juga dalam Alkitab KJV menggunakan “the name”, “nama” bukan “the names”, “nama-nama”. Dalam ayat ini Tuhan Yesus juga tidak berkata “dalam nama dari Bapa, Anak dan Roh Kudus, seolah-olah ada satu sosok tunggal yang memiliki nama tiga lipat tetapi Ia berkata dalam nama (tunggal) dari Bapa, dan dari Anak, dan dari Roh Kudus. Dengan kata lain, “nama” yang tunggal itu adalah “nama dari Bapa”, “nama dari Anak”, juga “nama dari Roh Kudus”. Hal ini menunjukkan perbedaan ketiga Pribadi Bapa, Anak dan Roh Kudus, rumusan tersebut menyetarakan dan mempersatukan mereka di bawah satu nama.[55] Hanger menyatakan bahwa ungkapan “dalam nama” atau secara harfiah “ke dalam nama” menggemakan ungkapan Ibrani-Aram lesyem, yang memiliki arti yang bersifat pemujaan, atau “secara mendasar ditentukan oleh”. Jadi begitu dibaptis ke dalam nama (tunggal)” Bapa, Anak dan Roh Kudus, adalah baptisan yang membawa seseorang masuk ke dalam suatu keberadaan atau kehidupan yang secara mendasar ditentukan atau diperintah oleh satu nama, satu Allah, yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus.[56]

Ketiga, Teks-teks dimana Allah mengekspresikan kejamakan-Nya.

Petunjuk penting yang tidak dapat kita abaikan adalah Allah ketika berbicara tentang diri-Nya sendiri Ia selalu memakai kata ganti  jamak seperti ditunjukkan oleh beberapa frasa berikut: “Marilah kita (jamak) menjadikan manusia” (Kejadian 1:26); “siapakah akan menjadi pembawa berita Kita?” (Yesaya 6:8) dan “sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita” (Kejadian 3:22). Petunjuk di atas terutama kejadian 3:22 tidak dapat didamaikan dengan baik oleh  doktrin keesaan Allah, tanpa mebayangkan referensi yang merujuk ke doktrin TriTunggal.[57] Memang tidak dapat dipungkiri bahwa bagian-bagian Alkitab ini dengan jelas membuktikan adanya kejamakan dalam hakikat Allah, yang terlihat dalam beberapa Pribadi yang berbeda seperti ditunjukkan oleh Alkitab.

Keempat, Penyebutan Tiga Pribadi ke-Allahan dalam berbagai peristiwa.

Pencarian tentang bagian-bagian yang menjadi bukti Alkitab tentang kejamakan atau lebih tempat disebut ketritunggalan Allah dari Perjanjian Lama samapi Perjanjian Baru menghadirkan fakta-fakta dalam bentuk kesaksian dari tulisan Alkitab:

1) Kesaksian Perjanjian Lama. Dalam peristiwa ketika Yesaya bernubuat tentang Mesias, ia menyatakan dengan jelas sebagai berikut, “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku ” (Yesaya 61;1). Nubuat ini diteguhkan secara tegas oleh Tuhan Yesus ketika berkata “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Lukas 4:21). Jadi dalam bagian ini terlihat Tiga-Pribadi ke-Allahan: Roh Tuhan Allah, Tuhan (YHWH - Bapa) dan aku (Tuhan Yesus). 2. Kesaksian Perjanjian Baru. Bagian-bagian Perjanjian Baru yang menyajikan tentang  TriTunggal oleh Donald Guthrie[58] dibagi dalam empat bentuk perikop: 1). Beberapa perikop yang dengan sengaja menggunakan rumusan TriTunggal. Dalam Matius 28:19 nama Tiga Pribadi Allah: Bapa, Anak dan Roh Kudus muncul dalam rumusan baptisan. Ini merupakan amanat yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya dan menjadi bukti bahwa rumusan ini tidak hilang dalam pemikiran jemaat mula-mula. Selanjutnya dalam 2 Korintus 13:13 yang dikenal dengan Ucapan Berkat Penutup. Di sini Paulus menyebutkan secara jelas tentang Allah, Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus dapat dikatakan ia memperlakukan Tiga Pribadi ini secara setara. Dan bagian berikutnya tercatat dalam Wahyu 1:4-6 dimana Yohanes menyampaikan salam dengan menyebut Allah sebagai Dia, yang ada, yang sudah ada dan yang akan datang atau Bapa-Nya; Roh Kudus disebut “tujuh roh” yang menununjukkan kepenuhan dan kesempurnan-Nya dan Anak yang disebut sebagai Yesus Kristus.  2). Perikop-perikop yang memakai bentuk tiga serangkai. Paulus menggunakan terminology “satu Roh … satu Tuhan … satu Allah dan Bapa” dalam Efesus 4:4-6. Dalam 1 Korintus 12:3-6 menggunakan format “satu Roh … satu Tuhan … Allah adalah satu”. Sedangkan 1 Petrus 1:2 menjelaskan dengan frasa, “rencana Allah, Bapa kita, dikuduskan oleh Roh, taat kepada Yesus Kristus”. 3). Perikop-perikop yang menyebutkan ketiga oknum itu secara bersama-sama, tetapi tanpa diungkapkan dalam struktur tritunggal yang jelas. Contoh dari perikop seperti ini terdapat dalam Matius 3:16-17 – Yesus segera keluar … Roh Allah seperti burung merpati … suara dari sorga menyatakan: “Inilah Anak-Ku”; Galatia 4:4-6 – Allah mengutus Anak-Nya … Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya … berseru: “ya Abba, ya Bapa!”; begitu Roma 8:1-17, 2 Tesalonika 2:23-24 Titus 3:4-6 dan Yudas 1:20-21 yang menunjukkan hubungan erat di antara Bapa, Anak dan Roh Kudus dan hal ini tidak dapat dianggap sebagai kebetulan saja. 4). Perikop-perikop yang paling penting karena menunjukkan hubungan natara Oknum-oknum Tritunggal yang berbeda itu. Perikop-perikop ini semuanya terdapat dalam Injil Yohanes (14:26; 15:26; 16:15 dan 14:6).

Kelima, Pemakaian Istilah-istilah yang berkaitan dengan hubungan antar pribadi.

William Shedd menjelaskan bahwa Allah tidak dapat merenung sendiri, mengetahui sendiri dan berkomunikasi sendiri, kecuali Ia itu Tiga dalam konstitusi-Nya. Subjek harus mengenal dirinya sendiri sebagai objek dan juga manganggap bahwa seperti itu. Ini berarti, bukan tiga substansi yang berbeda tetapi pribadi berbeda dari satu substansi. Konsekuensinya adalah kesatuan ilahi harus menjadi semacam kesatuan yang kompetibel dengan kesatuan yang jamak. Allah dalam sebuah unit yang jamak.[59]  

Allah adalah kasih. Pernyataan ini seringkali diucapkan oleh orang-orang Kristen tetapi mereka tidak memperhatikan bahwa kata-kata tersebut tidak memiliki makna yang riil kecuali setidaknya Allah terdiri dari dua Pribadi.[60] Kasih merupakan sesuatu yang dimiliki oleh seseorang untuk orang lain. Jika Allah adalah satu Pribadi tunggal, maka sebelum dunia diciptakan, Ia bukanlah kasih.[61]  Karena itu, sebagaimana ditulis oleh William Young dalam novelnya The Shack, di mana Bapa menjelaskan kasih kepada Mackenzie sebagai berikut: “Cinta dan hubungan. Seluruh cinta dan hubungan mungkin bagimu hanya karena hal itu sudah terlebih dahulu ada dalam Aku, dalam Tuhan sendiri … kecuali Aku memiliki objek untuk dicintai – atau, lebih tepatnya, seseorang untuk dicintai – jika Aku tidak memiliki hubungan semacam itu dalam diri-Ku sendiri, Aku sama sekali tidak akan sanggup mencintai. Engkau akan memiliki tuhan yang tidak dapat mencintai. Atau mungkin lebih buruk, engkau akan memiliki tuhan yang, ketika dia memilih, hanya dapat mencintai sebagai keterbatasan kodrat-Nya. Tuhan semacam itu bisa saja bertindak tanpa cinta, dan itu akan menjadi malapetaka. Itu tentu saja bukan Aku.”[62]

Keenam, Penggunaan istilah yang menunjukkan hakikat yang sama.

Penggunaan istilah untuk menunjukkan hakikat yang sama dalam Alkitab dapat kita jumpai dalam frasa Only begotten Son (Ind., Anak Tunggal Allah) dalam Yohanes 1:14, 18 menunjukkan tentang kesamaan hakikat. Kata begotten (diperanakkan) atau begetting (memperanakkan) secara implisit menunjukkan hakikat yang sama. C. S. Lewis menjelaskan bahwa “ketika Anda memperanakkan, Anda memperanakkan sesuatu yang sama jenisnya dengan Anda … yang diperanakkan oleh Allah adalah Allah; sama seperti yang diperanakkan manusia adalah manusia. Yang diciptakan Allah bukanlah Allah sama seperti yang dijadikan manusia bukanlah manusia.”[63] Ini berarti “yang diperanakkan oleh Allah Bapa adalah Allah, sesuatu yang memiliki jenis yang sama dengan diri-Nya.”[64] Dengan demikian menunjukkan bahwa “Anak Allah secara kekal berasal dari Allah Bapa, Dia bukan ciptaan, tetapi pribadi kedua dari Tritunggal.”[65]

Rumusan Doktrin TriTunggal

            Pertimbangan terhadap berbagai bukti yang dinyatakan dalam Alkitab membuat kekristenan harus merumuskan doktrin TriTunggal dengan cara yang baik, jelas dan penuh dengan kehati-hatian. Karena itu, setelah melihat bukti-bukti yang dinyatakan oleh Alkitab akhirnya gereja menyimpulkan bahwa Allah harus dipahami sebagai tiga-di dalam satu, atau dengan kata lain, tritunggal.[66] Berikut ini beberapa rumusan yang dirangkum oleh para tokoh gereja dari abad-ke abad untuk merumuskan doktrin ini.

Pertama, Rumusan tokoh-tokoh gereja. Tertulianus menyebut rumusannya tentang doktrin TriTunggal sebagai “una substantia, tres personae”, “satu hakikat, tiga pribadi”. Agustinus tentang kesatuan Allah ia menyatakan bahwa Allah yang maha Esa – dan bukan tiap-tiap Pribadi ilahi – yang memiliki satu kodrat, satu keallahan, satu kemuliaan, satu kehendak dan satu kegiatan. Oleh karrena itu, tiada keaktifan yang melibatkan hanya Bapa saja, atau hanya Putera saja atau hanya Roh Kudus saja. Terhadap alam dunia, Allah – maksudnya ketiga Diri Allah Tritungal – merupakan unum principium (satu azas). Karya Allah Tritunggal tidak dapat dipisah-pisahkan sejauh menyangkut segi luar (ad extra, ad creaturam), artinya ketiga Pribadi ilahi selalu bekerja dalam harmoni.[67] Dan tentang ketiga Diri Allah, ia menjelaskan bahwa bila berbicara bahwa Allah itu sempurna, baik, mahakuasa maka kata-kata ini merujuk kepada Allah dalam kesatuan-Nya. Tetapi ketika berbicara tentang Bapa, Anak dan Roh Kudus. Sebutan-sebutan ini merupakan sebutan relatif, sebab bukan setiap mereka merupakan Bapa atau Putera terhadap diri-Nya sendiri melainkan yang satu terhadap yang lain. Di dalam Allah segala sesuatu adalah satu kecuali apa yang mengenai masing-masing Pribadi dikatakan berhubungan dengan yang lain.[68] 

Kedua, Rumusan Pengakuan iman Konsili-konsili gereja abad-abad pertama. Berkaitan dengan topik TriTunggal terdapat dua pengakuan iman penting yang dihasilkan oleh konsili-konsili gereja di awal-awal abad Kekristenan. 1) Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel[69] yang berbunyi: Aku percaya kepada satu Allah, Bapa yang mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, segala yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah yang Tunggal, yang lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman, Allah dari Allah Terang dari Terang, Allah yang sejati dari Allah yang sejati, diperanakkan, bukan dibuat, sehakekat dengan sang Bapa, yang dengan perantaraan-Nya, segala sesuatu dibuat; yang telah turun dari sorga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, dan menjadi daging oleh Roh Kudus dari anak dara Maria, dan menjadi manusia; yang disalibkan bagi kita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, menderita dan dikuburkan; yang bangkit pada hari ketiga, sesuai dengan isi Kitab-kitab, dan naik ke sorga; yang duduk di sebelah kanan Sang Bapa dan akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati; yang Kerajaan-Nya takkan berakhir. Aku percaya kepada Roh Kudus, yang menjadi Tuhan dan yang menghidupkan yang keluar dari Sang Bapa dan Sang Anak disembah dan dimuliakan yang telah berfirman dengan perantaraan para nabi. 2) Pengakuan Iman Athanasius[70] yang merumuskan tentang Tritunggal dalam kata-kata berikut: … kita menyembah satu Allah dalam ke-Tigaan dan ke-Tigaan dalam ke-Satuan; tanpa mengaduk oknum, tanpa menceraikan tabiat. Memang oknum Bapa adalah lain; oknum Anak adalah lain; oknum Roh Kudus adalah lain; akan tetapi Bapa, Anak dan Roh Kudus ke-Allahan-Nya satu, kehormatan-Nya sama, kemuliaan-Nya seabadi. Sedemikian Bapa, demikian juga Anak, dan demikian juga Roh Kudus. Bapa tak tercipta, Anak tak terciptandan Roh Kudus tak tercipta. Bapa tak terhingga, Anak tak terhingga. Bapa adalah abadi, Anak adalah abadi, dan Roh Kudus adalah abadi. Meskipun demikian tiada tiga yang aabadi tetapi satu yang abadi. Seperti juga tiada tiga yang tak tercipta dan yang tak terhingga, tetapi satu yang tak tercipta dan satu yang tak terhingga … demikian juga Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah; meskipun demikian tida tiga Allah tetapi satu Allah … tida tiga Tuhan tetapi satu Tuhan. Seperti kita diperintahkan oleh kebenaran Kristen untuk menyebut tiap oknum tersendiri Allah atau Tuhan, demikian juga dilarang oleh iman yang am untuk mengatakan ada tiga Allah atau tiga Tuhan … di dalam TriTunggal tiada yang lebih dahulu atau lebih kemudian, tiada yang lebih tinggi atau lebih rendah, akan tetapi ketiga oknum semua seabadi dan semua setaraf. Sehingga dalam segala hal, seperti di atas telah dinyatakan, di dalam ket-Tigaan ke-Satuan dan di dalam ke-Satuan ke-Tigaan harus disembah. Oleh karena itu barangsiapa hendak selamat harus demikian keyakinannya mengenai Tritunggal.

Ketiga, Rumusan Pengakuan iman gereja. Pengkuan iman Westminster.[71] Tentang Allah dan Trinitas yang Kudus: 1. Hanya ada satu Allah yang esa,yang hidup dan sejati. Zat-Nya dan kesempurnaan-Nya tidak terbatas; Dia adalah Roh yang maha murni,  tidak kelihatan, tidak memiliki badan, anggota-anggota badan, atau bernafsu, tidak berubah-ubah; tidak terhingga, abadi, tidak terpahami; mahakuasa, berhikmat sempurna, mahakudus, mahabebas, mahamutlak. Dia menjadikan segala sesuatu demi kemulian-Nya sendiri menurut rencana kehendak-Nya yang tidak berubah-ubah dan mahaadil. Dia mahapengasih, mahamurah, penyayang, panjang sabar, berlimpah kebaikan dan kebenaran-Nya. Dia mengampuni kesalahan, pelanggaran, dan dosa. Dia adalah Pemberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Tetapi juga mahaadil dan mahadasyat dalam hukuman-hukuman-Nya; Dia membenci segala dosa, dan sekali-kali tidak akan membebaskan orang yang bersalah dari hukuman … 3. Dalam kesatuan keAllahan ada tiga Pribadi, yang satu dalam hal Zat-Nya, kuasa-Nya, dan kekekalan-Nya, yaitu Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, Sang Bapa tidak berasal dari siapa pun, tidak diperanakkan dan tidak keluar; Sang Anak secara kekal diperanakkan dari Sang Bapa; Roh Kudus secara kekal keluar dari Sang Bapa dan Sang Anak.

Diagram Penjelasan tentang Allah TriTunggal

Berikut ini diagram Kuno yang digunakan untuk menjelaskan Allah TriTunggal secara sederhana agar mudah dipahami.

 

 

Penjelasan tentang Trinitas.

            Penting memahami secara jelas tentang karakteristik dari penjelasan mengenai Tritungal menurut Paul Enns[72] adalah: Pertama, Allah adalah satu berkaitan dengan esensi. Kedua, Allah adalah tiga berkaitan dengan Pribadi. Ketiga, ketiga pribadi memiliki relasi yang berbeda. Keempat, ketiga Pribadi adalah setara dalam otoritas. Sedangkan menurut Millard Erickson[73] formulasi ortodok dari Allah TriTunggal adalah: Pertama, Apabila ditemukan suatu tindakan tertentu dari Bapa, Anak dan Roh Kudus, yang sama sekali berbeda dalam ketiga oknum tersebut maka harus disimpulkan bahwa yang bertindak itu hanya satu hakikat yang identiknya. Pernyataan dari Bapa, diteruskan melalui Anak, dan disempurnakan di dalam Roh. Kedua, dengan tegas mempertahankan bahwa hakikat ilahi itu konkret dan tidak dapat dibagi. Sekalipun ketiga oknum ke-Allahan dapat dibedakan dan dihitung sebagai Pribadi, tetapi ketiganya itu tidak dapat dibedakan dalam substansi dan hakikat-Nya. Ketiganya dapat dibedakan sebagai pribadi, namun esa dan tidak dapat dipisahkan dalam keberadaan mereka.

            Unsur-unsur esensial dalam doktrin Tritunggal[74] adalah 1). dimulai dalam persatuan Allah; 2). Keilahian masing-masing oknum Bapa, Anak dan Roh Kudus harus dinyatakan; 3). Ketigaan dan keesaan Allah tidak dalam hubungan yang sama; 4). Tritunggal itu kekal; 5). Fungsi salah satu anggita TriTunggal itu untuk sementara waktu mungkin kurang penting dari satu pribadi atau kedua pribadi lainnya, tetapi itu tidak berarti bahwa pada dasarnya rendah karena ketiga-Nya setara dan 6). TriTunggal itu tidak dapat dimengerti sepenuhnya.

Beberapa Analogi tentang TriTunggal

            Penggunaan analogi untuk menjelaskan Allah TriTunggal merupakan suatu langkah sederhana tetapi mengandung kelemahan yang beresiko. Analogi menciptakan ironi karena Allah yang tak dapat dipahami dan terselami karena melampaui akal, tidak mungkin dijelaskan hanya dengan penggunaan sebuah analogi dan juga tidak mungkin, tidak sepadan dan tidak nyambung untuk membandingkan sang Pencipta dengan benda-benada ciptaan dan mustahil untuk membahasakan tentang Allah. Tujuan analogi disini hanyalah suatu usaha untuk sedikit memahami atau untuk membantu memahami secara terbatas tentang Allah yang tak terbatas dengan keterbatasan pikiran manusawi yang ada. Dalam penggunaan analogi hal yang perlu dan penting untuk diperhatikan adalah analogi-analogi dapat memberikan implikasi bersifat triteistis (percaya kepada tiga allah) atau modalis (percaya Allah dengan satu pribadi saja). Untuk itu, harus digunakan dengan penuh kehati-hatian dan pertimbangan. Berikut ini beberapa analogi yang harus dipertimbangkan dengan matang dan dengan kesadaran jangan sampai memberi penekanan yang ekstrim. [75] Berikut Pertama, Analogi satu kata dengan tiga huruf seperti  Kata  AKU, GOD atau ESA. Kedua, analogi dari matematika seperti Segitiga jika salah satu sisinya dihilangkan itu berarti bukan lagi segitiga, setiap segi dalam segitiga adalah unik karena tanpa dihubungkan dengan dua segi yang lain maka tidak ada lagi segitiga; atau Ruang, memiliki tiga dimensi panjang, lebar dan tinggi. Ketiga, analogi dari ilmu kimia seperti H2O yang merupakan rumusan air terdiri dari Air, uap, dan es. Keempat, analogi dari alam seperti Matahari (sinar, panas dan terang) – sinar matahari bagian dari matahari tetapi hakikat matahari tidak terbagi atau berkurang darinya; begitu juga dengan terang dan panasnya. Kelima, analogi Kegiatan pikiran terdapat daya ingat, pengertian dan kehendak atau Pikiran yang mengingat Allah, mengetahui Allah dan mengasihi Allah. Keenam, analogi Waktu, ada masa lalu, masa sekarang dan masa depan.

Penutup

            Pemahaman terhadap Allah TriTunggal melampaui akal yang dimiliki seorang manusia dan hanya dapat dimengerti secara terbatas sesuai bukti yang ditunjukkan oleh bagian-bagian Alkitab. Pemahaman tentang pokok ini selalu menimbulkan kekaguman terhadapan betapa tak terselami misteri Allah ini. Kesukaran untuk menerima pokok ini dengan keterbatasan akal membuat orang percaya harus menerima dengan iman. Terima apa yang ditunjukkan dalam Alkitab meskipun bagiannya sedikit dengan akal yang terbatas dan terima dengan iman, sisanya yang tak terselami.

            Kebenaran tentang Allah Tritunggal yang penuh misteri, unik dan mengagumkan merupakan seuatu kebenaran yang memiliki nilai paradoks sebagaimana diungkapkan oleh Agustinus yang menunjukkan bahwa “kemanunggalan dan ketritunggalan, keesaan dan ketigaan.”[76] Ke-Esaan dan Ke-Jamakan Allah memiliki dasar yang kuat dalam Alkitab. Oleh karena itu, orang Kristen yang sejati akan selalu berpegang pada apa yang telah dibuktikan oleh Alkitab yaitu bahwa “Allah satu hakikat-Nya, yang tak dapat dibagi-bagi, meskipun itu ada pada Bapa, ada pada Anak, dan ada pada Roh Kudus. Demikian pula, bahwa karena salah satu sifat-Nya, Bapa berbeda dari Anak, dan Anak dari Roh Kudus.”[77]

            Dengan demikian ketika orang Kristen menerima doktrin Tritunggal maka cara menerapkan dalam kehidupannya haruslah seperti dinyatakan oleh Gregorius Nazianze, “begitu saya pikirkan yang Esa, maka segera ketiganyalah yang berseri-seri di sekeliling saya; dan begitu saya bedakan ketiganya, maka segera saya dibawa kembali kepada yang Esa.”[78] Itu merupakan salah satu gagasan terbaik dalam kehidupan Kristen ketika memandang kepada Allah TriTunggal. Soli Deo Gloria, Amin.

           

 

 

 



[1] Monoteisme adalah sebuah kepercayaan terhadap satu Allah.

[2] Kepercayaan bangsa Yahudi terhadap adanya satu Allah yang benar membedakan mereka secara radikal dari bangsa-bangsa sekeliling mereka yang mempercayai adanya banyak allah (politeisme). Monoteisme oleh orang Yahudi dipengang dengan sangat erat dan ketat.

[3] Russel E, Joyner, “The One True God” dalam Systematic Theology: A Pentecostal Perspective, ed., Stanley Horton, (Springfield: Logion Press, 1994), 119

[4] Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika (2 vols, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2004) 1:127

[5] John Locke seorang filsuf Inggris membagi pengetahuan ke dalam tiga bentuk: Pertama, Sesuai dengan Akal (rasional). Hal-hal yang kebenarannya dapat ditemukan melalui menguji dan menelusuri pikiran-pikiran dari sensasi dan refleksi dan melalui deduksi secara alami mengetahui benar atau mungkin. Kedua. Melampaui akal (supra rasional). Kebenaran atau kemungkinan yang tidak dapat diperoleh oleh melalui prinsip-prinsip pengujian rasional. Ketiga, Bertentangan dengan akal (irasional). Hal-hal yang tidak sesuai dengan, atau tidak dapat dipadankan dengan, pikiran-pikiran atau ide-ide yang jelas dan nyata. (lih., Colin Brown, Filsafat dan Iman Kristen, Alih Bahasa: Lena Suryana & Sutjipto Subeno (2 vols., Surabaya: Momentum, cet., ke-2, 1999), 1:84

[6] Kaum muslim menyatakan orang-orang Kristen sebagai orang kafir  dan menuduh mereka percaya tiga Allah berdasarkan ayat yang dalam Al Quran “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga,’ padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa” (Qs 5:73).

[7] Mormonisme secara terang-terangan mengakui bahwa TriTunggal adalah Tiga Allah yang merupakan makhluk-makhluk terpisah dan memiliki “satu” dalam tujuan mereka, dan mereka membentuk ke-Allah-an. Lihat artikel Mary Fairchild, “Faith Groups that Reject the Trinity Doctine” dalam http://christianity.about.com/od/christiandoctrines/tp/denytrinity.htm diunduh: 7/7/2014 12:01:01 AM

[8] Arianisme untuk menyebut ajaran yang disampaikan oleh Arius seorang presbiter dari Aleksandria yang mengajarkan bahwa Allah Bapa adalah Allah sedangkan Yesus Kristus diciptakan Sang Bapa dari yang tidak ada. Lih. Tony Lane, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, Alih Bahasa: Conny Item-Corputy (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet. Ke-4), 23-24

[9] Monarkhianisme Modalis menyatakan bahwa hanya ada satu ke-Allahan yang disebut dengan berbagai cara sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Allah bukanlah tiga pribadi melainkan satu pribadi dengan tiga nama, tiga peranan, atau tiga kegiatan yang berbeda-beda. Bapa, Anak dan Roh Kudus itu identik – ketiganya merupakan pernyataan berturut-turut dari oknum yang sama. Paham ini disebut juga dengan Sabelianisme karena Sabellius mengembangkan pemikiran doktrin ini sampai memperoleh bentuk yang paling lengkap dan canggih. Untuk memahami lebih lanjut pahami ini lihat karya Millard J. Erickson, Teologi Kristen, (3 vols, Malang: Gandum Mas, cet., ke-2, 2004), 1:536-538

[10] Ajaran Saksi Yehova mengadopsi dan meneruskan ajaran Arius dimana mereka percaya bahwa Allah adalah satu Pribadi, Yehova. Lih., Tony Lane, Runtut Pijar, 23.

[11] Oneness Pentacostal mengadopsi pandangan Monarkhianisme Modalis. Oneness Pentacostals percaya bahwa hanya ada satu Allah dan Allah adalah sasu. Sepanjang waktu Tuhan memanifestasikan dirinya dalam tiga cara atau bentuk (bukan pribadi-pribadi), sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Pandangan ini percaya Tuhan tidak mungkin tiga pribadi yang berbeda, tetapi hanya satu yang telah mengungkapkan dirinya dalam tiga peran yang berbeda. Lih., Mary Fairchild, “Faith Groups that Reject the Trinity Doctine”, Ibid.

[12] Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika, (Malang: Gandum Mas, cet., ke-5, 2000), 138

[13] Amir Hanna, Doctrinal Theology According to the Coptic Orthodox Church (Sydney:Coptic Theological College, 1998), 29

[14] R. C. Sproul, Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen, Alih Bahasa: Rahmiati Tanudjaja (Malang: Departemen Literatur SAAT, cet., ke-3, 2000), 43

[15] Dister, Teologi Sistematika, 151

[16] Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen, Alih Bahasa: A. A. Yewangoe (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet., ke-6, 2008), 79

[17] Ibid. 80

[18] R. Sudarmo, Ikhtisar Dogmatika, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet., ke-10. 1996), 124

[19] Ibid.

[20] Pengakuan Iman Westminster, Bab II.1 yang diseleksi oleh Th, van den End, Enam Belas Dokumen Dasar Calvinis. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 99

[21] Thiessen, Teologi Sistematika, 137

[22] Bukti-bukti tentang keesaan Allah dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menurut James P. Boyce dibagi ke dalam delapan bagian bukti:

  1. Bagian-bagian yang menyatakan Allah secara eksplisit bahwa Allah itu Esa: Ulangan 6:4; Maleakhi 2;10; Markus 12:19, 32; 1 Timotius 2;5; Efesus 4;5, 6 dan yakobus 2:19
  2. Bagian-bagian yang menyatakan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia: Ulangan 4:35, 39; 1 Samuel 2:2; 2 Samuel 7:22; 1 raja-raja 8:60; Yesaya 44:6, 8; 45:5, 6, 21, 22; 46:9 dan Yoel 2:27
  3. Bagian-bagian yang menyatakan tidak Ada yang seperti Dia dan sebanding dengan-Nya: Keluaran 8:10; 9:14; 15:11; 2 Samuel 7:22; 1 Raja-raja 8:23; 1 Tawarkh 6:14; Yesaya 40:25; 46:5 dan Yeremia 10:6
  4. Bagian-bagian yang menyatakan bahwa Dia sendiri adalah Allah: 2 Samuel 22:32; Nehemia 9:6; Mazmur 18:32; 86:10; Yesaya 37:16; 43:10, 12; 46:9; Yohanes 17:3 dan 1 Korintus 8:4-6
  5. Bagian-bagian yang menyatakan bahwa Dia sendiri saja yang layak disembah: Keluaran 20:5; 34:14; 1 Samuel 7:3; 2 Raja-raja 17:36; Matius 4:10; Roma 1:25 dan Wahyu 19:10.
  6. Bagian-bagian yang menyatakan bahwa adanya larangan bagi siapapun untuk diterima sebagai Allah: Keluaran 203; Ulangan 6:14-15; Yesaya 42:8; Hosea 13:4
  7. Bagian-bagian yang menyatakan Dia yang tertinggi di antara semua yang dapat disebut allah-allah: Ulangan 10:17; Yosua 22:22; Mazmur 96:4-5; Yeremia 14:22; 1 Korintus 8:4-6
  8. Bagian-bagian yang menyatakan bahwa Dialah Allah yang benar: Yeremia 10:10; 1 Tesalonika 1:9. (Lih., James P. Boyce, Abstract of Systematic Theology, (Louisville: Chas. T. Dearing, 1882), 59-60

[23] French L. Arrington, Doktrin Kristen: Perspektif Pentakosta, Alih Bahasa: Adi Pidekso (Jakarta: Departemen Media GBI, 2004), 118

[24] Erickson, Teologi Kristen, 1:520

[25] Arrington, Doktrin Kristen: Perspektif Pentakosta, 1:123

[26] Emil Brunner, The Christian Doctrine of God, (2 vols., Philadelphia: The Westminster Press, 1946), 208

[27] Erickson, Teologi Kristen, 1:520

[28] Sproul, Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen,  103

[29] Erickson, Teologi Kristen, 1:521

[30] Ibid. 1:522

[31] J. Knox Chamblin, Paulus dan Diri: Ajaran Rasuli bagi Keutuhan Pribadi, Alih Bahasa: Irwan Tjulianto dan Elsye (Surabaya: Momentum, 2006), 29

[32] Ibid.

[33] Vincent Taylor, The Person of Christ in New Testament Teaching (London: Macmillan, 1958), 42

[34] J. Knox Chamblin, Paulus dan Diri, Ibid.

[35] Erickson, Teologi Kristen, 1:522-523

[36] John R. W. Stott, Karya Kristus bagi Kita, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet., ke-2, 1984), 18

[37] Ibid. 22

[38] J. Knox Chamblin, Paulus dan Diri, 28-29

[39] Erickson, Teologi Kristen, 1:524-525

[40] Arrington, Doktrin Kristen: Perspektif Pentakosta, 1:119

[41] Thiessen, Teologi Sistematika, 138

[42] Lih., Erickson, Teologi Kristen, 1:527

[43] G. A. F. Knight, A Biblical Approach to the Doctrine of the Trinity (Edinburgh: Oliver an Boyd, 1953), 20

[44] Ibid.

[45] Kavin Conner, Doktrin Dasar, (2 vols., Jakarta: Harvest Publication House, 1993), 80

[46] Ibid., 81

[47] William Evans, The Great Doctrines of the Bible (Chichago: Moody Press, Revised Ed., 1949), 27

[48] Richard Wurmbrand, 100 Permenungan di Balik Terali Besi, Alih Bahasa: Natanael T. (Yogyakarta: Yayasan Andi, 1991), 95

[49] Evans, The Great Doctrines of the Bible, Ibid.

[50] Walter Bauer, Frederik W. Danker, W. F. Arnadt, eds, A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature (Chicago: The University of Chicago Press, 3rd Ed., 2000), 291

[51] Horst Balz and Gerhard Schneider, Exegetical Dicitionary of the New Testament (3 vols., Edinburg: T & T Clark LTD, 1990), 1:400

[52] Erickson, Teologi Kristen, 1:526-257

[53] Ibid. 527

[54] Ibid. 528. Dalam terjemahan Yesaya 6:8 yang digunakan disini sengaja diambil dari versi IBIS LAI karena lebih sesuai dan lebih tepat terjemahannya berdasarkan Alkitab dalam bahasa Ibrani dibanding terjemahan yang digunakan dalam versi ITB LAI.

[55] C. Samuel Storms, The Grandeur of God (Grand Rapids: Baker Book House, 1984), 50

[56] Donald A. Hagner, “Matthew 14-28” dalam Word Biblical Commentary (52 vols., Dalas: Word, 1995), 888

[57] J. L. Dagg, Manual of Theology. A Treatise on Christian Doctrine, (Philadelphia: American Baptist Publication Society, tt) , 56

[58] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru, Alih Bahasa: Lisda T. Gamadhi (3 vols., Jakarta: BPK Gunung Mulia, cet., ke-11, 2006), 96-97

[59] William G. T. Shedd, Domatic Theology, (2 vols., New York: Charles Scribner’s Sons, 1888), 1:251

[60] C. S. Lewis, Mere Christianity, Alih Bahasa: Grace P. Christian (Bandung: Pionir Jaya, 2006), 2

 







<